Al Quran
           Alquran ini memiliki panjang 2 meter, lebar 2,40 meter, tebal 15 cm dan berat sekitar 1 kwintal.

Foto lain dari Warga Sidoarjo Temukan Alquran Raksasa






Seperti yang dikutip news.detik.com Penemuan kitab suci Alquran di rumah Anang Asriyanto (28), warga Desa Glagah Arum RT 12 RW 3 Porong, Sidoarjo, sempat membuat heran sekaligus takjub. Pemilik rumah menyebut Alquran raksasa itu datang secara ghaib.
Gadis Ini Akan Membersihkan Meja Dari Piring Sisa Makan Mahasiswa (Shanghaiist.com)

Gadis yang tak disebutkan namanya itu sudah biasa membantu ayahnya yang berjualan di kafetaria kampus.



Dream - Mahasiswa kampus Wuhan Media and Communication College di Huazhong Normal University merasa malu, setelah melihat foto seorang gadis kecil berusia 6 tahun membersihkan sisa-sisa makan mahasiswa di kafetaria kampus.

Gadis yang tak disebutkan namanya itu sudah biasa membantu ayahnya yang berjualan di kafetaria kampus. Saat melihat pelanggan ramai dan ayahnya sibuk melayani pembeli, gadis ini akan membersihkan meja dari piring sisa makan mahasiswa agar bisa ditempati kembali.

Kepala kafetaria mengatakan, sudah beberapa kali menyewa tukang bersih-bersih tapi selalu saja kewalahan saat jam-jam sibuk.

Dia menambahkan, sekolah sebenarnya sudah memperingatkan mahasiswa untuk membersihkan meja mereka setelah makan. Namun masih banyak yang tidak melakukannya.

Sebuah komentar datang dari senior kampus tersebut. Dia berkata, "Kepada para mahasiswa baru, karena kalian masih di semester awal, jadikan foto ini pelajaran. Jangan seperti kami, kami adalah 'orang-orang' yang buruk dan kami menyadarinya."

Komentar lainnya berkata, "Membersihkan meja dari piring sisa makan adalah cara kalian mencintai sekolah. Saya harap semua bisa melakukannya."

(Ism, Sumber: Shanghaiist.com)
Ilustrasi (OnIslam.net)

Saat Mary membaca Surat Al-Noor, hatinya begitu tersentuh. Meski hanya membaca terjemahannya, kebenaran Allah dan Alquran menjadi jelas baginya.



Dream - Mary, seorang wanita Amerika, dibesarkan dalam keluarga yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai agama. Lahir di Oklahoma, Mary sangat menganggap penting agamanya.

Setelah lulus sekolah menengah atas, Mary ingin melanjutkan kuliah. Namun kedua orangtuanya bercerai sehingga dia gagal masuk universitas.

Beruntung, dia masih bisa sekolah di sebuah sekolah tinggi lokal. Usai lulus, Mary menikah, punya anak, dan bercerai. Kemudian dia menikah dan lagi-lagi bercerai. Setelah perceraian keduanya, Mary memutuskan ikut audisi beasiswa ke University of Tusla. Mary akhirnya diterima di kampus dekat rumahnya itu.

Mary sangat senang karena dia punya banyak teman internasional dan bisa membaca segala buku sepuasnya di perpustakaan universitas. Sambil kuliah, Mary mengajarkan writing. Di sinilah Mary bertemu dengan muslim untuk pertama kalinya.

Gadis-gadis muslim asal Malaysia yang menjadi murid writing Mary begitu sopan santun dan ramah tamah. Setiap jam-jam tertentu, para mahasiswi Malaysia itu minta izin untuk menunaikan ibadah mereka.

Mary berpikir agama mereka pasti agama yang baik karena mampu memberi efek kehidupan yang positif kepada penganutnya.

Mary juga senang melihat para mahasiswi Malaysia itu saat mengenakan kerudung. Namun Mary mengira bahwa kerudung itu adalah budaya orang-orang Malaysia.

Saat mengajar para mahasiswi Malaysia itu, Mary tiba-tiba merasakan sakit pada kepalanya. Selama bertahun-tahun, Mary memang punya penyakit migrain. Akibatnya, Mary tidak ke kampus karena kepalanya sangat sakit dan dia harus minum obat berdosis tinggi.

Mary sebenarnya sudah tidak kuat lagi untuk minum obat-obatan tersebut. Selama sakit dan terbaring itulah Mary merasakan kebaikan muslim yang sebenarnya dari para mahasiswi Malaysia itu.

Mary sengaja tidak mengunci pintu kamarnya agar para mahasiswi itu bisa belajar bahasa Inggris atau writing. Mereka kadang membawakan makanan atau masak sup untuk Mary.

Suatu saat, Mary bertanya kepada Aminah, salah satu mahasiswi Malaysia, tentang agama Islam. Tidak ingin Mary mendapat informasi yang salah soal Islam, Aminah minta bantuan Mahmoud dari Oman. Mahmoud hanya bisa menjawab beberapa pertanyaan karena dia harus masuk kelas writing.

Hari berikutnya, Mahmoud membawa Saif dari Yaman dan mereka berdua bergantian menjawab segala pertanyaan tentang Islam dari Mary.

Selain kedua pemuda tersebut, Mary juga dikenalkan kepada Tariq, Khalid serta Yousif. Mereka akhirnya menjadi murid Mary di kelas writing.

Selama menjadi guru writing bagi pemuda-pemudi muslim itu, Mary melihat ikatan persaudaraan yang kuat di antara mereka. Mary akhirnya minta Saif sebuah buku tentang Islam untuk dibaca-baca.

Buku tentang status wanita dalam Islam yang diberikan Saif begitu menyentuh perasaan Mary. Dia jadi tahu bahwa Islam sangat menjunjung tinggi wanita.

Mary kemudian meminta Saif Alquran dan terjemahannya dalam bahasa Inggris. Dari kitab inilah, Mary mengakui bahwa dia sedang membaca kata-kata Tuhan. Saat Mary membaca Surat Al-Noor, hatinya begitu tersentuh. Meski hanya membaca terjemahannya, kebenaran Allah dan Alquran menjadi jelas bagi Mary.

Meskipun masih merasakan sakit kepala, Mary tetap berdoa kali ini dengan menyebut kata Allah. Setelah berdoa, Mary merasa mengantuk dan tertidur. Tapi saat bangun keesokan harinya, sakit di kepalanya mendadak hilang dan Mary sangat bersyukur. Tanggal 8 November 1994, Mary akhirnya memeluk Islam dengan bimbingan Saif.

(Sumber: OnIslam.net)

Kisah Aminah, Mualaf yang Ingin Meninggal dalam Islam Ilustrasi

Dalam Islam, Fogarty menemukan semua jawaban yang dicarinya selama ini. Dia tidak lagi merasa melayang. Langkah hidupnya seperti terarah setiap harinya.

infonewz2 - Aminah Fogarty adalah seorang gadis yang taat dalam agamanya. Namun, dia tidak pernah merasa terhubung kepada satu tempat atau konsep hingga saat menemukan Islam.
Sebelumnya, Fogarty merasa tidak memiliki tujuan dalam hidup. Fogarty tidak pernah merasa khawatir tentang keadaan rohaninya. Dia merasa beragama tapi tidak mempengaruhi hidupnya.
Fogarty merasa seperti melayang. Langkah kehidupan seperti berlalu begitu saja, tanpa banyak memperhatikan ke mana hati membawanya.
Dia menerima Islam saat masih di sekolah menengah atas. Meski kehidupannya tidak langsung berubah, namun hatinya yang terus bergejolak dipenuhi kegembiraan.
Dalam Islam, Fogarty menemukan semua jawaban yang dicarinya selama ini. Dia tidak lagi merasa melayang. Langkah hidupnya seperti terarah setiap harinya.
Fogarty kini tahu bahwa hanya Allah yang patut disembah dan Dia telah mengutus Nabi Muhammad untuk membimbing umat manusia menuju Islam.
Dengan bulan berganti tahun, pengetahuan Fogarty tentang Islam dan Allah semakin berkembang. Dia terus belajar tentang Islam dan membaca Alquran.
"Keinginan terbesar saya, saya ingin menumbuhkan iman, takwa, ketulusan dan pengetahuan dalam Islam. Hingga malaikat datang mengucapkan salam saat saya meninggal."
(Ism, Sumber: OnIslam.net)


Imam Muslim menuturkan sebuah riwayat, bahwasanya Rasulullah saw bersabda;
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
“Ada dua golongan manusia yang menjadi penghuni neraka, yang sebelumnya aku tidak pernah melihatnya; yakni, sekelompok orang yang memiliki cambuk seperti ekor sapi yang digunakan untuk menyakiti umat manusia; dan wanita yang membuka auratnya dan berpakaian tipis merangsang berlenggak-lenggok dan berlagak, kepalanya digelung seperti punuk onta. Mereka tidak akan dapat masuk surga dan mencium baunya. Padahal, bau surga dapat tercium dari jarak sekian-sekian.”[HR. Imam Muslim].
Di dalam Syarah Shahih Muslim, Imam Nawawiy berkata, “Hadits ini termasuk salah satu mukjizat kenabian. Sungguh, akan muncul kedua golongan itu. Hadits ini bertutur tentang celaan kepada dua golongan tersebut. Sebagian ‘ulama berpendapat, bahwa maksud dari hadits ini adalah wanita-wanita yang ingkar terhadap nikmat, dan tidak pernah bersyukur atas karunia Allah. Sedangkan ulama lain berpendapat, bahwa mereka adalah wanita-wanita yang menutup sebagian tubuhnya, dan menyingkap sebagian tubuhnya yang lain, untuk menampakkan kecantikannya atau karena tujuan yang lain. Sebagian ulama lain berpendapat, mereka adalah wanita yang mengenakan pakaian tipis yang menampakkan warna kulitnya (transparan)…Kepala mereka digelung dengan kain kerudung, sorban, atau yang lainnya, hingga tampak besar seperti punuk onta.”
Imam Ahmad juga meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah dengan redaksi berbeda.
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَا أَرَاهُمَا بَعْدُ نِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مَائِلَاتٌ مُمِيلَاتٌ عَلَى رُءُوسِهِنَّ مِثْلُ أَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَرَيْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَرِجَالٌ مَعَهُمْ أَسْوَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ
“Ada dua golongan penghuni neraka, yang aku tidak pernah melihat keduanya sebelumnya. Wanita-wanita yang telanjang, berpakaian tipis, dan berlenggak-lenggok, dan kepalanya digelung seperti punuk onta. Mereka tidak akan masuk surga, dan mencium baunya. Dan laki-laki yang memiliki cambuk seperti ekor sapi yang digunakan untuk menyakiti umat manusia “[HR. Imam Ahmad]
Hadits-hadits di atas merupakan ancaman yang sangat keras bagi wanita yang menampakkan sebagian atau keseluruhan auratnya, berbusana tipis, dan berlenggak-lenggok.
Syariat Islam telah mewajibkan wanita untuk menutup anggota tubuhnya yang termasuk aurat. Seorang wanita diharamkan menampakkan auratnya di kehidupan umum, di hadapan laki-laki non mahram, atau ketika ia melaksanakan ibadah-ibadah tertentu yang mensyaratkan adanya satru al-’aurat (menutup aurat).
Aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali muka dan kedua telapak tangan. Seseorang baru disebut menutup aurat, jika warna kulit tubuhnya tidak lagi tampak dari luar. Dengan kata lain, penutup yang digunakan untuk menutup aurat tidak boleh transparan hingga warna kulitnya masih tampak; akan tetapi harus mampu menutup warna kulit.
Ancaman bagi yang tidak menurut aurat adalah tidak mencium bau surga alias neraka, karena tidak amanah, tidak tunduk kepada aturan sang Kholik.


Di akhir zaman, seperti zaman kita ini, sebelum datangnya hari kiamat akan ada hari-hari yang di dalamnya turun dan tersebar kejahilan yang disebabkan oleh malasnya manusia dan enggannya mereka dari menuntut ilmu agama, yaitu ilmu tentang Al-Qur’an dan Sunnah. Nabi-shollallahu alaihi wasallam- bersabda,
إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ لَأَيَّامًا يَنْزِلُ فِيْهَا الْجَهْلُ وَيُرْفَعُ الْعِلْمُ
“Sesungguhnya di depan hari kiamat ada hari-hari yang kejahilan diturunkan di dalamnya, dan ilmu diangkat”. [HR. Al-Bukhoriy (6654)]
Banyak diantara  sunnah Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- yang dilalaikan orang pada hari ini sehingga terkadang menjadi sesuatu yang mahjur (ditinggalkan).
Inilah yang pernah diisyaratkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau bersabda dalam sebuah hadits,

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيْبًا وَسَيَعُوْدُ كَمَا بَدَأَ غَرِيْبًا فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ
“Islam muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali (asing), sebagaimana ia muncul dalam keadaan asing. Maka beruntunglah orang-orang asing“. [HR. Muslim dalam Kitab Al-Iman (232)]

Semua ini disebabkan karena kurangnya perhatian kaum muslimin terhadap agamanya dan sunnah Rasul-Nya-shollallahu alaihi wasallam-. Kurangnya perhatian mereka menuntut ilmu syar’i karena kesibukan duniawi yang memalingkan mereka. Sementara mereka tak ada perhatian lagi dengan majelis ilmu dan majelis ta’lim. Akibatnya, agama dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terasa asing dan aneh di sisi mereka.
Memang mereka terkadang mendatangi majelis ta’lim. Namun jika mereka hadir, nampak pada wajah mereka lelah dan keterpaksaan ikut majelis ta’lim. Yah, hanya sekedar hadir agar orang tidak mencelanya. Maka anda akan lihat orang semacam ini jika hadir di majelis ta’lim, ada yang ngantuk , bahkan tidur. Ada yang bersandar di tembok, jauh dari ustadz. Ada yang sengaja duduk di belakang untuk sembunyi; jika ngantuk dan tertidur, ia bisa sembunyikan wajahnya di balik punggung kawannya. Ada yang cerita dengan temannya sehingga mengganggu ceramah ustadz. Ada yang melayang pikirannya sampai Amerika. Inilah kondisi mereka sehingga tak heran jika mereka tetap jahil terhadap agamanya. Jika mendengar cerita yang menguntungkan dunianya, maka matanya terbelalak. Betul dunia adalah nikmat yang Allah berikan. Namun jangan dijadikan tujuan hidup dan pusat perhatian. Dunia diambil sekedar bekal menuju Allah (Ta’ala). Allah tidak memberikan nikmat kepada seorang hamba-Nya, kecuali nikmat itu hanya sekedar alat dan sarana yang dipakai untuk beribadah dan beramal sholeh. Dunia dengan segala nikmatnya bukanlah merupakan tujuan dan terminal terakhir bagi seorang muslim. Akan tetapi merupakan tempat persinggahan mengambil bekal menuju perjalanan akhir, yaitu akhirat.
Fenomena berlombanya kaum muslimin memperbanyak harta benda dan fasilitas duniawi sehingga membuat mereka lupa terhadap agamanya merupakan sebab tersebarnya kejahilan. Jika semakin hari, semakin tersebar kejahilan, maka ketahuilah bahwa ini adalah salah satu diantara ciri dan tanda dekatnya hari kiamat.
Nabi-shollallahu alaihi wasallam- bersabda,

مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ : أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَ يُثْبَتَ الْجَهْلُ
“Diantara tanda-tanda kiamat: Diangkatnya ilmu, dan kokohnya (banyaknya) kejahilan”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (80), dan Muslim dalam Shohih-nya (2671)]

Di tengah kabut kejahilan menyelimuti manusia, tersebarlah berbagai macam maksiat berupa pembunuhan, pencurian, perzinaan, dan kerakusan terhadap harta. Ini semua diakibatkan oleh hilangnya ilmu agama yang bermanfaat di tengah manusia. Nabi-shollallahu alaihi wasallam- bersabda dalam riwayat lain ketika menyebutkan tanda dekatnya hari kiamat,

يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ وَيُقْبَضُ الْعِلْمُ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ وَيُلْقَى الشُّحُّ وَيَكْثُُرُ الْهَرْجُ
“Zaman akan saling mendekat, diangkatnya ilmu, munculnya berbagai fitnah (masalah), diletakkan kerakusan, dan banyaknya peperangan”. [HR. Al-Bukhoriy (989) dan Muslim (157)]

Al-Imam Ibnu Baththol –rahimahullah- berkata , “Semua yang dikandung oleh hadits ini berupa tanda-tanda kiamat sungguh kami telah melihatnya dengan mata kepala. Ilmu sungguh telah diangkat, kejahilan muncul, dile tak kannya penyakit rakus dalam hati, fitnah (musibah) merata, dan pembunuhan banyak”. [Lihat Fath Al-Bari (13/16)]

Ini di zamannya Ibnu Baththol –rahimahullah-, maka bagaimana lagi di zaman kita ini kejahilan merata dimana-mana, baik di kota maupun di pedalaman. Kejahilan di negeri kita bukan hanya mengenai rakyat jelata yang tak berpendidikan agama, bahkan juga mengenai kaum terpelajar. Hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi-shollallahu alaihi wasallam-,

إِنَّ اللهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ اِنْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ النَّاسِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يَتْرُكْ عَالِمًا اِتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُسًا جُهَّالًا فُسُئِلُوْا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوْا وَأَضَلُّوْا
“Sesungguhnya Allah tidak mengangkat ilmu dengan sekali mencabutnya dari manusia. Akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mematikan para ulama’ sehingga apabila Allah tidak menyisakan lagi seorang ulama’pun, maka manusiapun mengangkat pemimpin-pemimpin yang jahil. Mereka (para pemimpin tsb) ditanyai, lalu merekapun memberikan fatwa tanpa ilmu. Akhirnya mereka sesat dan menyesatkan (manusia)” . [HR. Al-Bukhory dalam Kitab Al-Ilm (100), dan Muslim dalam Kitab Al-Ilm (2673)]

Al-Imam Abu Zakariya An-Nawawiy-rahimahullah- berkata ketika menjelaskan makna hadits di atas, “Hadits ini menjelaskan maksud tercabutnya ilmu dalam hadits-hadits lalu yang muthlak (umum), bukan menghapusnya dari dada para penghafal (pemilik) ilmu itu. Akan tetapi maknanya, para pembawa ilmu itu (yakni para ulama) akan mati. Lalu manusia mengangkat orang-orang jahil (sebagai pemimpin dalam agama). Orang-orang jahil itu memutuskan perkara berdasarkan kejahilan-kejahilannya. Lantaran itu ia sesat, dan menyesatkan orang”. [Lihat Al-Minhaj Syarh Shohih Muslim ibn Al-Hajjaj (16/224), cet. Dar Ihya’ At-Turots Al-Arabiy] Alangkah banyaknya pemimpin dan ustadz-ustadz seperti ini. Mereka diangkat oleh manusia sebagai seorang ulama’ dan ustadz. Padahal ia tidaklah pantas dijadikan panutan, karena ia jahil. Kalaupun ia berilmu, namun ilmu itu di buang di belakang punggungnya. Manusia jenis ini banyak bermunculan bagaikan jamur di musim hujan.
Lebih para lagi, jika dakwah yang ditangani oleh orang-orang jahil dihiasi dengan perkara-perkara yang melanggar syari’at, seperti dakwah dihiasi dengan musik. Ini adalah cara dakwah yang keliru, karena menyalahi tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dengarkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam mengharamkan musik, لَيَكُوْنَنَّ مِنْ أُمَّتِيْ أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّوْنِ الْحِرَّ وَالْحَرِيْرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ
“Sesungguhnya akan ada beberapa kaum dari ummatku akan menghalalkan zina, kain sutra, minuman keras (khomer), dan musik“. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Al-Asyribah (5590)]
Muhaddits Negeri Syam Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy Al-Atsariy –rahimahullah- berkata dalam kitabnya Tahrim Alat Ath-Thorb (hal 105), “Sesungguhnya para ulama dan fuqoha –diantaranya empat imam madzhab- sepakat mengharamkan alat-alat musik karena berteladan dengan hadits-hadits Nabi Shollallahu Alaihi wa Sallam dan atsar-atsar Salaf ”. Jadi, berdakwah dengan musik merupakan perkara kejahilan dan kebatilan yang menyalahi tuntunan Allah (Ta’ala), Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan para ulama’ kaum msulimin dari dulu sampai hari ini.
Realita ummat yang demikian ini membuat dahi berkerut dan kepala sakit karena banyaknya dan bertambahnya “PR” yang perlu diselesaikan oleh para dai kebenaran. Dengan realita kejahilan ummat seperti ini, tak pelak jika banyak menimbulkan masalah. Tak heran jika terkadang ada sunnah Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- yang ingin diamalkan di zaman ini, mereka serta merta merasakannya sebagai suatu yang asing, menolaknya, menganggapnya bukan dari Islam!! Bahkan memusihi dan menyakiti sebagian hamba-hamba Allah (Ta’ala) yang mengamalkannya. Jika kejahilan tentang agama merata di tubuh ummat, maka akan tersebar berbagai macam pelanggaran, syirik, kekafiran, bid’ah, dan maksiat, baik yang nampak, maupun yang tersemunyi.
Inilah awal kehinaan yang akan menimpa ummat Islam yang dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam. Jika ummat Islam sibuk dengan dunia, sibuk dengan peternakan, pertanian, perdagangan –apalagi riba- sehingga lupa mempelajari agamanya dari Al-Qur’an dan Sunnah, maka Allah akan timpakan kehinaan atas mereka. Inilah kehinaan yang tak mungkin akan tercabut dari tubuh ummat kecuali mereka mau kembali kepada agamanya dengan ilmu agama yang benar, dan berguna.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ
“Jika kalian berjual-beli dengan cara ‘inah (salah satu bentuk riba, -pen), kalian memegang ekor-ekor sapi, ridho dengan bercocok tanam, dan meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kepada kalian suatu kehinaan yang tak akan dicabut oleh Allah sampai kalian kembali kepada agama kalian“. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (3462).

Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Muhaddits Al-Atsariy Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (11)] Kesibukan dengan dunia menyebabkan kita akan semakin cinta kepadanya, dan takut mati untuk menghadap Allah (Ta’ala) . Seakan-akan kita mengharapkan diri dan harta benda yang melalaikan kita agar kekal di dunia, tanpa menghadapi hisab. Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu- berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُوْشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ ؟ قَالَ : بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيْرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللهُ مِنْ صُدُوْرِ عَدَوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللهُ فِيْ قُلُوْبِكُمْ الْوَهْنَ ” فَقَالَ قَائِلٌ: يَارَسُوْلَ اللهِ وَمَا الْوَهْنُ ؟ قَالَ : حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ
“Hampir saja ummat-ummat saling memanggil (menyerang) menuju kalian sebagaimana orang-orang yang mau makan saling memanggil kepada nampannya”. Ada yang bertanya, “Apakah karena kita sedikit saat itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian saat itu banyak, tapi kalian buih laksana buih ombak. Allah benar-benar akan mencabut perasaan segan terhadap kalian dari dada musuh kalian; Allah akan mencampakkan kelemahan dalam hati kalian”. Ada yang bertanya, “Apa kelemahan itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia, dan takut mati”. [HR. Abu Dawud dalam Kitab Al-Malahim (4297). Di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (958)]
 Ya Allah, Hanya Kepada-Mu lah Kami Memohon ...
Banyak hal di dunia ini yang tidak semuanya bisa kita lakukan sendiri. Kita pasti butuh pertolongan dari orang lain. Apalagi masalah akhirat, Allah lah yang bisa menolong kita. Makanya Islam mengajarkan agar kita berdoa. Allah Ta’ala berfirman, 
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu dalam kebenaran." (QS. Al-Baqarah : 186)
Lalu bagaimana caranya biar doa kita terkabul? Berikut beberapa kiat agar do’a kita terkabul.
1. Ikhlas
Keikhlasan merupakan poros semua amalan dan ibadah, termasuk dalam berdoa.  Doa orang yang ikhlas, akan lebih didengar dan diperhatikan oleh Allah. Allah Subhanahu wa ta’alla berfirman,
“ Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Ghafir : 14).
Dari Abdurrahman bin Yazid bahwa dia berkata, “Ar-Rabii’ datang kepada ‘Alqamah pada hari jumat dan jika saya tidak ada dia akan memberikan kabar kepada saya, lalu ‘Alqamah bertemu dengan saya dan berkata, ‘Bagaimana pendapatmu tentang apa yang dibawa oleh Rabii’?’ Dia menjawab, ‘Berapa banyak orang yang berdoa tetapi tidak dikabulkan? Karena Allah tidak menerima kecuali doa yang ikhlas.’ Saya berkata, ‘Bukankah itu telah dikatakannya?’ Dia berkata, ‘Abdullah mengatakan bahwa Allah tidak mendengar doa seseorang yang berdoa karena sum’ah, riya’, dan main-main, tetapi Allah menerima doa orang yang berdoa dengan ikhlas dari lubuk hatinya.” (HR. Bukhari)
2. Tidak berdoa untuk sesuatu yang dosa dan memutus silaturahim
Dari Abu Said, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan do’anya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do'a-do'a kalian.” (HR. Ahmad, derajat hasan)
Kata Syaikh Al-Mubarakfuri yang dimaksud “tidak berdoa untuk sesuatu yang berdosa” artinya berdoa untuk kemaksiatan seperti, “Ya Allah, takdirkan aku untuk bisa membunuh si fulan”, sementara si fulan itu tidak berhak dibunuh atau “Ya Allah, berilah aku rizki untuk bisa minum khamr”. Atau berdoa untuk memutus silaturahim. Suatu contoh, “Ya Allah, jauhkanlah aku dari bapak dan ibuku serta saudara-saudaraku”. Doa tersebut merupakan bentuk pengkhususan terhadap yang umum. Imam Al-Jazri menjelaskan bahwa memutus silaturahim bisa berupa tidak saling menyapa, saling menghalangi, dan tidak berbuat baik dengan semua kerabat dan keluarga.
3. Hendaknya makanan dan pakaian dari yang halal dan bagus
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam menyebutkan, “ Seorang lelaki yang lusuh lagi kumal karena lama bepergian mengangkat tangan ke langit tinggi-tinggi dan berdoa, ‘Ya Rabbi, ya Rabbi sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dagingnya tumbuh dari yang haram, maka bagaimanakah doanya bisa terkabulkan ?” (HR. Muslim)
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud lama bepergian dalam rangka beribadah kepada Allah seperti haji, ziarah, silaturahim dan yang lainnya. Wuzzz….ngeri kan. Yang bepergian untuk kebaikan aja bisa ditolak, apalagi yang berbuat maksiat. Makanya jaga diri dari makanan, minuman, pakaian haram serta jauhi perbuatan yang tidak disukai Allah.
4. Tidak tergesa-gesa dalam menunggu terkabulnya doa
Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Akan dikabulkan permintaan seseorang di antara kamu selagi tidak tergesa-gesa, yaitu ia mengatakan, ‘Saya telah berdoa tetapi belum dikabulkan’.” (Mutaffaqun ‘alaih)
Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Yang dimaksud dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Saya berdoa tetapi tidak dikabulkan’, yaitu seseorang bosan berdoa lalu meninggalkannya, seakan-akan mengungkit-ungkit dalam doanya atau mungkin dia berdoa dengan baik sesuai dengan syaratnya, tetapi bersikap bakhil dalam doanya dan menyangka Allah tidak mampu mengabulkan doanya, padahal Allah adalah Dzat Yang Maha Mengabulkan doa dan tidak pernah habis pemberian-Nya.”
Syaikh Al-Mubarafakturi menjelaskan bahwa Imam Al-Madzhari berkata, “Barangsiapa yang bosan dalam berdoa, maka doanya tidak terkabulkan sebab doa adalah ibadah, baik dikabulkan atau tidak, seharusnya seseorang tidak boleh bosan beribadah. Tertundanya permohonan boleh jadi belum waktunya doa itu dikabulkan karena segala sesuatu telah ditetapkan waktu terjadinya. Sehingga, segala sesuatu yang belum waktunya tidak akan mungkin terjadi.
Atau boleh jadi permohonan tersebut tidak terkabulkan dengan tujuan Allah mengganti doa tersebut dengan pahala, atau boleh jadi doa tersebut tertunda pengabulannya agar orang tersebut rajin berdoa. Sebab Allah sangat senang terhada orang yang rajin berdoa, karena doa memperlihatkan sikap yang rendah diri, menyerah, dan merasa membutuhkan Allah. Orang yang sering mengetuk pintu akan segera dibukakan pintu dan begitu pula orang yang sering berdoa akan dikabulkan doanya.
Allah berfirman,
“Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Ku perkenankan bagimu.” (QS. Ghafir : 60)
Banyak orang yang berdoa tetapi tidak dikabulkan, seandainya ayat tersebut sesuai dengan zhahirnya (tekstualnya) pasti tidak mungkin doa tersebut ditolak. So, lalu apa maksudnya ?
Dari ‘Ubadah bin Shamit, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidak ada seorang muslim di dunia berdoa memohon suatu permohonan melainkan Allah pasti akan mengabulkan atau menghilangkan daripadanya keburukan yang semisal.” (HR. Tirmidzi, hasan shahih)
5. Hendaknya berdoa dengan hati yang khusyu’ dan yakin doanya pasti akan dikabulkan
Allah Ta’ala berfirman,
“Berdoalah kepada Rabb-mu dengan tadharru (berendah diri) dan suara yang lembut” (QS Al-A’raf : 55)
Dari Abdullah bin ‘Amr, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hati itu laksana wadah dan sebagian wadah ada yang lebih besar dari yang lainnya. Apabila kalian memohon kepada Allah  maka mohonlah kepada-Nya sedangkan kamu merasa yakin akan dikabulkan, karena sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR Ahmad)
Syaikh Al-Mubarakfuri menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dan kalian yakin akan dikabulkan” adalah pengharusan. Artinya, berdoalah sementara kalian bersikap dengan sifat yang menjadi sebab terkabulnya doa. Imam Al-Madzhari menjelaskan bahwa hendaknya orang yang berdoa merasa yakin bahwa Allah akan mengabulkan doanya.
Sedangkan yang dimaksud “hati yang lalai” adalah hati yang berpaling dari Allah atau berpaling dari yang dimintanya.
Seandainya ada yang mengatakan, sebagian ada doa yang terkabul dan sebagian yang tidak maka bagaimana kita bisa yakin? Jawabannya, bahwa orang yang berdoa pasti akan dikabulkan dan permintaannya pasti akan diberikan kecuali bila dalam catatan azali Allah doa tersebut tidak dikabulkan. Akan tetapi, mungkin dia akan dihindarkan dari musibah semisalnya, diganti pahala, atau ditinggakan derajat di akhirat.
6. Memanfaatkan waktu yang utama untuk berdoa
Allah menciptakan waktu dengan kemuliaan yang berbeda-beda. Itulah sebabnya Allah bersumpah atas keberadaan jenis waktu yang berbeda. Ada waktu demi masa, demi waktu dhuha, demi malam, demi siang, dsb. Adapun waktu-waktu yang mustajab untuk berdoa di antaranya :
  • Sepertiga malam terakhir
  • Tatkala berbuka puasa bagi orang yang berpuasa
  • Setiap selesai shalat fardhu
  • Pada saat perang berkecamuk
  • Sesaat pada hari jumat
  • Pada waktu bangun tidur pada malam hari bagi orang yang sebelum tidur dalam keadaan suci dan berdzikir pada Allah
  • Di antara adzan dan iqomah
  • Pada waktu sujud dalam shalat
  • Saat sedang turun hujan
  • Saat ajal tiba
  • Malam lailatul qadr
  • Pada hari arafah
Terakhir, janganlah bersedih  atau kecewa bila doa kita belum terkabul. Yang pasti jangan putus asa untuk selalu berdoa. Yakinlah bahwa Allah SWT tak pernah salah, dan tahu yang terbaik untuk kita.
Walluhu'alam....
   

     Madu, pastinya Anda sudah tidak asing lagi dengan madu. Minuman manis yang terbukti berkhasiat menyembuhkan semua macam penyakit, bahkan dalam agama islam madu adalah salah satu minuman yang dimuliakan. melalui Al Qur’an surat An Nahl 68 – 69 Alloh menjelaskan tentang lebah dan madu kepada kita, seperti berikut : Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia". Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. Dari dua ayat tersebut jelas bahwa misi lebah dibumi adalah untuk mendampingi umat manusia dan menyediakan obat untuk manusia. Bahkan dari kalimat “….dan temnpat-tempat yang dibikin manusia” kita juga bisa mengerti bahwa lebah adalah satu-satunya binatang yang didalam Al Qur’an sudah disebutkan untuk bekerja sama dengan manusia. Dan Rasulullaah SAW, bersabda : "Ambillah / pergunakanlah olehmu sekalian akan dua obat penyembuh yaitu madu dan al-Qur'an." (Hadis riwayat Ibnu Majah). Mungkin agak sulit bagi kita untuk memahami mengapa misi menyediakan obat bagi manusia ini begitu pentingnya – sehingga lebahpun diselamatkan ketika terjadi pemusnahan makhluk-makhluk perkasa dijamannya. Misi tersebut akan menjadi lebih mudah kita pahami akhir-akhir ini khususnya bagi kita yang hidup di Indonesia. Kemusrikan paling mudah menyerang umat Islam di Indonesia pada saat dia atau keluarganya menderita sakit, dengan mudah mereka mengambil jalan pintas ke perbagai pengobatan alternatif – padahal berbagai pengobatan alternatif yang ada sebagiannya mengandung kemusrikan. Disinilah pentingnya kita dalam memilih pengobatan (atau apapun masalah kita) untuk menggunakan tuntunan yang ada di Al –Qur-an dan Al Hadits. Dalam pengobatan contohnya yaitu Allah sendiri yang telah mengabarkan kepada kita obat tersebut di dalam Al Quran lewat dua ayat tersebut diatas. Lalu dijelaskan lagi didalam hadis tersebut ternyata madu mempunyai keistimewaan yang tersendiri dengan nilai-nilai utama dalam ilmu kesehatan, yang mempunyai zat-zat besi dan vitamin yang kuat. Di samping itu madu juga dianggap penting kerana memenuhi keperluan tubuh dan cepat memberi tenaga. Mereka yang mengetahui akan khasiat madu akan menggunakannya secara rutin, hal ini bukan hanya teori tetapi telah dibuktikan daripada beberapa kajian yang telah dilakukan di mana jika diamalkan setiap hari akan mencegah daripada berbagai penyakit dan memberi tenaga yang cukup. Dalam al-Qur'an, hadis-hadis yang disebutkan dan amalan perubatan tradisional, madu mempunyai keistimewaannya yang tersendiri. Adalah menjadi suatu amalan yang baik menjadikan madu sebagai obat dan penjaga kesehatan. Lalu bagaimana menurut kaca mata medis mengenai khasiat dan manfaat madu ? Khasiat dan Manfaat Madu Menurut Uji Klinis : Meningkatkan kekuatan tenaga fisik. Mencerahkan mata, memutihkan dan menguatkan gigi. Mencerdaskan otak orang dewasa dan kanak-kanak. Menjadikan kulit lebih licin dan halus (awet muda). Madu dan sarang lebah madu merupakan bahan asas kepada krem kulit, lipstik dan losyen tangan. Mempercepat penyembuhan luka terbuka, melawan Jangkitan dan meningkatkan daya ketahanan badan. Menghilangkan panas badan, batuk, selsema, meredakan urat saraf, menstabilkan sistem pernafasan, menguatkan jantung, mengelakkan kencing manis, darah tinggi dan melembapkan kerongkong serta menghilangkan serak suara. Memperkuat janin yang lemah dalam kandungan      ( rahim ). Membantu menjaga stamina dan kesehatan Ibu Hamil karena memberikan asupan gizi yang tinggi bagi pertumbuhan janin yang sehat selama dalam kandungan Membantu perkembangan otak bayi, karena setiap harinya otak terus berkembang sampai dengan usia 5 tahun. Untuk itu ia membutuhkan gizi yang tinggi. Mengobati luka bakar. Madu memiliki spesifikasi anti proses peradangan (inflammatory activity anti). Meningkatkan nafsu makan Anak-anak ( adanya unsur vitamin B yang lengkap dalam madu), dan mempercepat pertumbuhan fisik sehingga anak tumbuh sehat , lincah dan riang serta tahan penyakit. ( H.Mohamad , 2002 ). Mengembalikan stamina dari kelelahan dan stress. Makanan terbaik yang sangat diperlukan bagi manula yang organ pencernaannya sudah mulai berkurang fungsinya, karena madu adalah sumber energi dan gizi yang dapat diserap langsung oleh tubuh .( Kesehatan 2001 ). Bila digunakan untuk bersikat gigi bisa memutihkan dan menyehatkan gigi dan gusi, mengobati sariawan dan gangguan mulut lain. Dengan menggunakan cairan madu berkadar 90% (madu dicampur air hangat) dua hari sekali di bagian-bagian yang terinfeksi di kepala, diurut pelan-pelan selama 2-3 menit, madu dapat membunuh kutu, menghilangkan ketombe, memanjangkan rambut, memperindah dan melembutkannya serta menyembuhkan penyakit kulit kepala. Semoga dengan penjelasan mengenai Manfaat dan Khasiat Madu Menurut Islam akan menjadikan Anda tidak enggan untuk mengkonsumsi madu, ingat mencegah lebih baik dari pada mengobati
SOAL:
Ada kawan saya (perempuan) yang ingin menikah dengan seorang laki-laki, tetapi tidak disetujui oleh keluarganya dengan berbagai alasan, misalnya wajah calon suaminya tidak “cakep”. Kawan saya tersebut terus berusaha melobi keluarganya selama 4 bulan agar dinikahkan tapi keluarganya tetap tidak mau menikahkan. Pertanyaannya :   
  1. Bolehkah perempuan tersebut menikah dengan wali hakim, mengingat usahanya untuk mendapatkan wali nikah tidak berhasil?
  2. Apa itu wali hakim? Bagaimana mendapatkan wali hakim itu?  (Ymn, Yogyakarta).

JAWAB :

Jika wali tidak mau menikahkan, harus dilihat dulu alasannya, apakah alasan syar’i atau alasan tidak syar’i. Alasan syar’i adalah alasan yang dibenarkan oleh hukum syara’, misalnya anak gadis wali tersebut sudah dilamar orang lain dan lamaran ini belum dibatalkan, atau calon suaminya adalah orang kafir (misal beragama Kriten/Katholik), atau orang fasik (misalnya pezina dan suka mabok), atau mempunyai cacat tubuh yang menghalangi tugasnya sebagai suami, dan sebagainya. Jika wali menolak menikahkan anak gadisnya berdasarkan alasan syar’i seperti ini, maka wali wajib ditaati dan kewaliannya tidak berpindah kepada pihak lain (wali hakim) (Lihat HSA Alhamdani, Risalah Nikah, Jakarta : Pustaka Amani, 1989, hal. 90-91)

Jika seorang perempuan memaksakan diri untuk menikah dalam kondisi seperti ini, maka akad nikahnya tidak sah alias batil, meskipun dia dinikahkan oleh wali hakim. Sebab hak kewaliannya sesungguhnya tetap berada di tangan wali perempuan tersebut, tidak berpindah kepada wali hakim. Jadi perempuan itu sama saja dengan menikah tanpa wali, maka nikahnya batil. Sabda Rasulullah SAW,”Tidak [sah] nikah kecuali dengan wali.”  (HR. Ahmad; Subulus Salam, III/117).

Namun adakalanya wali menolak menikahkan dengan alasan yang tidak syar’i, yaitu alasan yang tidak dibenarkan hukum syara’. Misalnya calon suaminya bukan dari suku yang sama, orang miskin, bukan sarjana, atau wajah tidak rupawan, dan sebagainya. Ini adalah alasan-alasan yang tidak ada dasarnya dalam pandangan syariah, maka tidak dianggap alasan syar’i. Jika wali tidak mau menikahkan anak gadisnya dengan alasan yang tidak syar’i seperti ini, maka wali tersebut disebut wali ‘adhol.  Makna ‘adhol, kata Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani, adalah menghalangi seorang perempuan untuk menikahkannya jika perempuan itu telah menuntut nikah. Perbuatan ini adalah haram dan pelakunya (wali) adalah orang fasik (Taqiyuddin An-Nabhani, An-Nizham Al-Ijtima’i fi Al-Islam, hal. 116). Firman Allah SWT :

“…maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang ma’ruf.” (TQS Al-Baqarah : 232)

Jika wali tidak mau menikahkan dalam kondisi seperti ini, maka hak kewaliannya berpindah kepada wali hakim (Imam Asy-Syirazi, Al-Muhadzdzab, II/37; Abdurrahman Al-Jaziri, Al-Fiqh ‘ala Al-Madzahib Al-Arba’ah, IV/33). Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW,”…jika mereka [wali] berselisih/bertengkar [tidak mau menikahkan], maka penguasa (as-sulthan) adalah wali bagi orang [perempuan] yang tidak punya wali.” (Arab : …fa in isytajaruu fa as-sulthaanu waliyyu man laa waliyya lahaa) (HR. Al-Arba’ah, kecuali An-Nasa`i. Hadits ini dinilai shahih oleh Ibnu ‘Awanah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim, Subulus Salam, III/118).

Yang dimaksud dengan wali hakim, adalah wali dari penguasa, yang dalam hadits di atas disebut dengan as-sulthan. Imam Ash-Shan’ani dalam kitabnya Subulus Salam II/118 menjelaskan, bahwa pengertian as-sulthan dalam hadits tersebut, adalah orang yang memegang kekuasaan (penguasa), baik ia zalim atau adil (Arab : man ilayhi al-amru, jaa`iran kaana aw ‘aadilan). Jadi, pengertian as-sulthaan di sini dipahami dalam pengertiannya secara umum, yaitu wali dari setiap penguasa, baik penguasa itu zalim atau adil. (Bukan hanya dari penguasa yang adil). Maka dari itu, penguasa saat ini walaupun zalim, karena tidak menjalankan hukum-hukum Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara,  adalah sah menjadi wali hakim, selama tetap menjalankan hukum-hukum syara’ dalam urusan pernikahan. Demikianlah pemahaman kami, wallahu a’lam.

Untuk mendapatkan wali hakim, datanglah ke Kepala KUA Kecamatan tempat calon mempelai perempuan tinggal. Hal ini karena di Indonesia sejak 14 Januari 1952 berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 1 Tahun 1952, wali hakim dijalankan oleh Kepala KUA Kecamatan, yang dilaksanakan oleh para Naib yang menjalankan pekerjaan pencatatan nikah dalam wilayah masing-masing. Peraturan ini berlaku untuk wilayah Jawa dan Madura. Sedang untuk luar Jawa dan Madura, diatur dengan Peraturan Pemerintah No. 4 Tahun 1952 dan mulai berlaku mulai tanggal 1 Juli 1952 (Lihat HSA Alhamdani, Risalah Nikah, Jakarta : Pustaka Amani, 1989, hal. 91). [ ]


Jangan lupa kunjugi trimbelboy.blogspot.com
 Ilustrasi - Perempuan berkerudung. (flickr.com / Zarfique Blindgraphique)
Ilustrasi
infonewz2 - “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbab ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Al-Ahzab: 59)
Ketika kita berbicara tentang jilbab, maka kita berbicara tentang pakaian takwa. Pakaian yang diturunkan untuk muslimah, untuk menutup auratnya dan jelas disebutkan di Al-Qur’an. Baru-baru ini, paradigma manusia tentang jilbab semakin jauh dari kata “syar’i”, bagaimana tidak? Iklan-iklan jilbab yang “mengaku menjual jilbab syar’i” semakin membuat kening ini berkerut? Apakah memang seperti itu jilbab yang diperintahkan oleh Allah, atau kita selama ini telah tertipu? Jilbab syar’i dan modis, begitu tagline yang selama ini digembar-gemborkan oleh kalangan hijabers.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, modis adalah mengikuti mode; yang berpakaian sesuai dengan mode yang paling baru. Maka, yang perlu dipertanyakan adalah, apakah perintah menggunakan jilbab di Al-Qu’ran itu kuno sehingga perlu diperbaharui, dimodifikasi dan dikembangkan mengikuti zaman? Mari kita renungkan. Lalu, kenapa tidak kita ubah paradigma kita bahwa sesungguhnya Jilbab Syar’i itu lah jilbab yang paling modis sepanjang jaman. Sehingga kita bisa menjadi trendsetter bahwa jilbab syar’i tidak akan pernah lekang oleh waktu dan tidak akan terkikis oleh zaman.
Lalu bagaimana caranya menjadi trendsetter jilbab yang super modis tersebut? Tentunya kita harus paham terlebih dahulu bagaimana cara memakai jilbab yang sesuai dengan tuntutan Islam. Yuk kita cek dari atas sampai bawah:
#1. Menutup dan melindungi seluruh tubuh, selain yang dikecualikan, yaitu muka dan telapak tangan.
“Hai Asma’, sesungguhnya wanita, apabila telah sampai tanda kedewasaan (haidh), tidak boleh terlihat bagian tubuhnya, kecuali ini dan ini (Beliau mengisyaratkan muka dan telapak tangannya).” (H.R Abu Daud, Al-Albani menghasankannya)
#2. Hindari tabarruj
Tabarruj adalah berhias dengan memperlihatkan kecantikan dan menampakkan keindahan tubuh dan kecantikan wajah.
“…Dan janganlah kalian berhias dan bertingkahlaku seperti orang-orang jahiliah terdahulu…” (Al-Ahzab: 33)
Saudariku, tidak perlu make up yang mahal untuk cantik. Percantik diri kita dengan dandanan iman, agar kita terlihat cantik, memesonda dan mulia di hadapan-Nya. Percantiklah diri kita dengan akhlaq. Muliakan diri kita dengan tidak berlebihan dalam berhias, karena kita bukanlah pameran berjalan.
#3. Tanpa punuk unta
“Akan muncul di akhir umatku, wanita-wanita yang berpakaian namun pada hakikatnya bertelanjang. Di atas kepala mereka terdapat suatu penaka punuk unta. Mereka tidak akan memasuki surga, dan tidak juga akan mencium aroma surga. Padahal bau surga itu dapat dicium dari jarak sekian dan sekian.” (H.R Muslim)
#4. Kain kerudung menutup dada
“…janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya,..” (An-Nur 31)
#5. Kainnya harus lapang dan tidak sempit
“Akan muncul di akhir umatku, wanita-wanita yang berpakaian namun pada hakikatnya bertelanjang. Di atas kepala mereka terdapat suatu penaka punuk unta. Mereka tidak akan memasuki surga, dan tidak juga akan mencium aroma surga. Padahal bau surga itu dapat dicium dari jarak sekian dan sekian.” –H.R Muslim
Yang dijelaskan pada hadits di atas adalah tentang wanita-wanita yang mengenakan pakaian tipis yang menggambarkan bentuk tubuhnya. Oleh karena itu, pemakaian jilbab haruslah longgar sehingga tidak membentuk tubuh muslimah yang mengenakannya.
#6. Tidak memperlihatkan sedikit pun bagian kaki wanita
Kaki kan juga aurat, maka mari afdhal-kan pakaian taqwa kita dengan memakai kaos kaki.
#7. Tidak menyerupai pakaian laki-laki
“Rasulullah melaknat laki-laki yang memakai pakaian perempuan, dan perempuan yang memakai pakaian laki-laki.” (H.R Ahmad, Abu Daud, Al Hakim, dan Ibnu Majah)
#8. Tidak menyerupai pakaian orang-orang kafir
“..Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia adalah bagian dari mereka..” (H.R Ahmad dan Abu Daud)
Jilbab adalah salah satu bentuk betapa Islam begitu menjaga dan memuliakan wanitanya. Semua fashion lengkap diatur di dalam Al-Qur’an dan Hadits, tanpa perlu dimodifikasi lagi (dengan berusaha mengenakan jilbab syar’i, maka ridha Allah pun senantiasa menyertai, hingga kita raih kecantikan yang hakiki).
“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kalian pakaian untuk menutupi ‘aurat kalian dan pakaian yang indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang terbaik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (Al-A’raf: 26)

Jangan lupa kunjugi trimbelboy.blogspot.com
 Ilustrasi (kawanimut)
Ilustrasi (kawanimut)

Infonewz2 - Bismillahirahmanirrahim. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan.” (HR. Muslim).

Wanita adalah makhluk Allah SWT yang paling indah dan istimewa. Sang pesona keindahan Sang pesona dunia ini, seperti diajarkan Oleh Allah Subhanahu Wata’ala untuk tetap menjadi indah dan yang terindahkan. Hanya saja begitu banyak manusia yang lalai dalam menjaga dan menikmati keindahan yang telah diciptakan ini.
Pemberitaan media massa mengenai kekerasan pada wanita, pemerkosaan, dan pelecehan seks di tempat umum sudah menjadi konsumsi tersendiri bagi public. Banyak manusia yang lemah iman dan lemah ilmu yang justru tidak bisa menikmati dan menyadari keindahan itu dalam hati mereka. Ini sangat miris dengan segala keindahan yang dimiliki oleh wanita ini justru tidak bisa dinikmati oleh beberapa orang para pemimpin bumi.
Padahal betapa Allah SWT begitu melindungi wanita yang sangat mulia dengan segala keistimewaannya, seperti yang dipaparkan pada Al-Quran Surat Al Ahzab ayat 59: “Hai Nabi, Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Dengan memahami ayat di atas bahwa Allah SWT sudah mewajibkan wanita untuk menutup aurat mereka agar bisa terlindung dari hal-hal yang tidak diinginkan. Ini merupakan salah satu perlindungan yang Allah SWT berikan terhadap wanita untuk selalu menjaga keindahan yang telah di Anugerahkan oleh-Nya.
Lalu bagaimana jika seorang wanita mengingkari perintah tersebut? Seiring dengan berjalannya waktu, tidak bisa dipungkiri begitu banyak wanita yang mulai berani memamerkan ‘auratnya’ di tempat umum. Sehingga perintah untuk menjaga keindahan tersebut diabaikan begitu saja. Bukan hanya perintah yang terabaikan, hal ini juga memicu bertambahnya tingkat kriminalitas terhadap perempuan itu tersendiri.
Banyak perempuan yang pada kenyataan nya mengenyampingkan keselamatan demi sebuah mode pakaian terbaru atau sebuah trend model rambut terbaru. Maksudnya, jika diperjelas adalah banyak sekali perempuan khususnya remaja yang menganggap hijab atau jilbab jika digunakan hanya menutupi kecantikan. Padahal sudah semestinya hijab atau kerudung yang digunakan oleh seorang perempuan selain berfungsi sebagai identitas sebagai muslim tapi juga sebagai pelindung kecantikan perempuan itu sendiri. Sebenarnya bukan hanya menjalankan perintah Al-Quran, bukan hanya sebagai identitas perempuan sebagai muslim, dan juga pelindung dari segala kejahatan, hijab juga mendorong perempuan-perempuan muslim untuk berperilaku lebih baik lagi. . Dengan berjilbab sesuai syar’i, Muslimah tidak akan dinilai hanya berdasarkan penampilan luarnya atau karena keindahan fisiknya. Sehingga penghargaan kepada perempuan akan sama seperti penghargaan kepada laki-laki, yaitu berdasarkan kepribadian, intelektualitas, maupun akhlaknya. Dalam al-Qur’an, Allah menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan adalah setara:
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang Muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (al-Ahzab: 35).
Kaum feminis yang menganggap berjilbab merupakan belenggu bagi Muslimah, perlu diluruskan pemahamannya. Muslimah berjilbab adalah tanda bahwa dia menghargai dirinya dan menjaga kehormatan sehingga orang lain juga akan menghargai dan menghormati dirinya. Budaya saling menghargai sesama manusia akan menciptakan suasana yang nyaman dan harmonis. Sebaliknya perempuan yang tidak berjilbab dan memamerkan auratnya, akan menimbulkan suasana yang panas dan tidak nyaman. Perempuan akan dilecehkan, digoda dan diganggu. Hal ini menyebabkan sebagian besar orang masih memandang perempuan sebagai obyek seksual, perempuan dinilai dari fisiknya bukan dari segi intelektual dan keshalihannya.
Sebagai contoh, icon iklan motor maupun mobil bahkan alat traktor, biasanya menggunakan model perempuan dengan pakaian minim, yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan barang yang akan diiklankan. Sasaran iklan tersebut tentu saja konsumen laki-laki, akan tertarik membeli mobil tersebut karena modelnya perempuan cantik berpakaian minim dengan pose aduhai menantang. Atau misalnya perempuan yang berjalan melenggak-lenggok di dalam ring tinju dengan membawa papan ronde juga dimaksudkan sebagai pencerah permainan tinju tersebut. Akibatnya, larangan-larangan Allah dilanggar dan kejahatan seperti perzinaan dan pemerkosaan akan mudah tersulut, sehingga tercipta lingkungan yang meresahkan dan perasaan tidak aman dan tidak nyaman.
Dengan penjelasan di atas sudah bisa diterima bukan bahwa jilbab adalah pelindung perempuan yang paling baik. Jadi ada baiknya jika gerakan 1000 jilbab untuk perempuan muslimah lebih diperluas dan dikembangkan, untuk tercapainya kenyamanan bersama.

Jangan lupa kunjugi trimbelboy.blogspot.com

Ilustrasi (foto: Dakwah Muslimah)
Ilustrasi
infonewz2 – Tidak ada  alasan bagiku untuk tidak mengenakan hijab ini. Hijab yang telah melekat dan kukenal sejak aku berusia sangat dini, bahkan saat sebelum aku mengetahui kewajiban untuk menutup aurat. Namun demikanlah orang tuaku, kami dikenalkan menutup aurat sejak kecil walau hanya sekedar dikenalkan. Memasuki usia sekolah, orangtuaku memilih ibtida’iah sebagai tempat kami menutut ilmu. Sudah menjadi program mama dan papa untuk pendidikan anak-anak mereka. Untuk sekolah dasar dan menengah pertama, mereka akan menyekolahkan kami di sekolah yang bebasis agama Islam. Sedang ketika menengah atas mereka membebaskan kami sekolah di manapun yang kami mau. Tentunya semua dilakukan untuk mengenalkan kami tentang Islam yang kaffah sejak dini.
Jilbab…
Sejak masuk sekolah dasar aku sudah mengenakan jilbab. Walau hanya dipakai ketika masuk sekolah saja. Ini sudah cukup untuk mendidik kami bahwa ternyata yang membedakan seorang muslimah dengan wanita dari agama lain adalah jilbab. So… bagaimana dengan muslimah yang tak mengenakan jilbab?? Jawablah pertanyaan ini sendiri.
Sampai di sekolah menengah pertama aku masih mengenakan jilbab ketika bersekolah. Saat itu aku belum memahami tentang kewajiban mengenakan jilbab. Tapi jika bertemu dengan guru atau teman sekolah dalam keadaan tak berjilbab rasanya maluuuu sekali. Alhamdulillah ternyata itu awal dari bagaimana cara Allah mengingatkanku tentang kewajiban berjilbab.
Selanjutnya seperti yang dijanjikan orangtuaku, ketika masuk SMA kami bebas memilih kemana pun kami ingin. Kebetulan nilai akhir kami (aku dan kakakku) mencukupi nilai standar untuk masuk sekolah favorit. Tapi kakak kakakku lebih memilih masuk Aliyah. Alasannya sekolah umum pasti mengurangi pelajaran agama. Sedang kakak ketigaku memilih masuk SMA negeri. Alasannya dia ingin masuk ke perguruan tinggi favorit lewat jalur undangan. Sedang aku memilih sekolah yang dekat rumah saja, yakni sekolah swasta di dekat rumahku.
Tentang kewajiban berjilbab aku baru mengetahuinya ketika di SMA, waktu itu pelajaran agama. Allah menerangkan tentang kewajiban menutup aurat dalam al-Quran Surrah Al-ahzab ayat 59 yang terjemahannya sebagai berikut:
“Hai nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, Karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Walau belum bisa menyempurnakan jilbab untuk dikenakan. Tapi sejak SMA aku mulai inten mengenakan jilbab terlebih semenjak bergabung di Rohis, tapi busanaku belum membaik, masih mau mengenakan celana dan jilbabnya belum sempurna. Setelah masuk kuliah dan aktif di LDK barulah perlahan dan pasti jilbabku mulai diperbaiki. Dan Alhmadulilllah begitu luar biasanya menjaga marwah diri. Kita terhindar dan terjaga dengan busana yang kita kenakan.
Pernah aku bertanya kepada teman kuliahku yang hampir saja dikeluarkan dosen Agama Islam karena masuk kelas tanpa mengenakan jilbab, “Kenapa belum mau berjilbab?”
“Tunggu hati ini bersih, baru mau pake jilbab,” jawabnya.
Aku mengerutkan kening, tapi benar juga alangkah indahnya jika busana yang dikenakan sesuai dengan indahnya perbuatan. “Kapan itu?” tanyaku lagi sambil bercanda.
“Ya… enggak tau,” katanya.
“Keburu meninggal!” kataku menimpali, dan ia hanya tertawa.
“Entar pake jilbabnya di kuburan aja,” katanya.
“Ia juga sih, pocong kan menutup aurat, yak?”
“Hahaha…” dia tertawa keras mendengar pernyataanku. Ah… ternyata kita tak lebih baik dari mayat yang dibungkus auratnya dengan berlapis lapis kain kafan.
Jika kalian menemukan pernyataan: “Apakah kita melaksanakan kewajiban kita sebagai muslim harus menunggu hati kita bersih dulu?”
Maka jawablah: “Hidayah itu tidak datang dengan sendirinya, tapi kita yang menjemputnya. Dan Allah tidak akan mengubah suatu kaum, sebelum kaum itu merubah dirinya sendiri.”
So… apakah kita harus menunggu hati yang bersih dulu baru menutup aurat? Bagaimana hati kita bersih? Kotoran-kotoran itu masuk melalui aurat-aurat yang terbuka.
Adalagi pernyataan seperti ini: “Percuma jilbabnya lebar tapi hatinya busuk, nyeritain (ngomongin) orang, mulutnya nyinyir… ish… mending dibuka aja jilbabnya itu.”
Makhluk Allah tidak ada yang sempurnya, tapi saya pun tidak membela pihak manapun.  Kita tanya dulu, kita menutup aurat ini karena apa? Jika kita melakukan ini karena Allah maka keridhoan Allahlah yang kita dapat. Jika menutup aurat karena ingin meraih sesuatu yang bukan karena Allah, maka itu pulalah yang kita dapat. Apa hubungannya dengan jilbab tapi perilakunya buruk? Itu artinya hidayah itu sedang berproses atau memang dia menutup aurat karena ingin meraih sesuatu dan bukan ingin mencari keridhoan Allah.
Misalnya, agar diterima kerja di sebuah instansi yang hanya menerima pekerja yang baik agamanya dan penampilannya, atau karena agar diterima sebagai pasangan hidup seseorang yang mencari pasangan dengan kriteria yang demikian, atau karena tuntutan keluarga, dan lain-lain.” Nah.. mari kita tanyakan kenapa kita berjilbab tapi perbuatan yang tidak baik masih saja dilakukan. Pacaran yes, ghibah oke, nipu teteup, marah-marah sering, dan lain-lain. Berarti itu karena kita belum bisa memperbaiki diri kita. Seharusnya hijab ini menjadi perisai bagi kita. Ketika kita ingin melakukan perbuatan buruk, berpikirlah, “Ah… enggak jadilah, malu aku sama jilbabku. Masa’ jilbabku lebar gini masih mau pacaran. Apa kata orang?” Biarlah ia menjadi alasan kita menjauhi perbuatan buruk sebelum hidayah itu tiba. Ia akan mendekatkan kita kepada ketakutan–ketakutan karena taatnya kita kepada Allah.
Inilah indahnya Islam, ia benar–benar rahmat bagi seluruh alam. Mari kita lakukan langkah-langkah berikut:
  1. Dekati Allah
  2. Perbaiki hijab
  3. Perbaiki tingkah laku
  4. Istiqomah dan tetaplah qona’ah
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang beruntung.
Duhai akhwatifillah, mungkin banyak sikap-sikap manusiawi yang masih saja menggoda kita sementara hijab ini tak mencerminkan tingkah kita. Maka yang perlu kita lakukan adalah restart, restart, dan terus me-restart diri, agar virus-virus itu tak sempat betah di hati kita. Tak semua yang berhijab itu baik, dan tak semua yang tak berhijab itu buruk, tapi yang berhijab dan berakhlak mulia itu adalah bidadari dunia yang sebenarnya. Maka mari kita wujudkan mimpi kita menjadi seorang bidadari dunia. Sebab kemajuan sebuah negara ada di tangan kita, para wanita. Begitu banyak para shahabiyah-shahabiyah yang luar biasa yang dapat kita jadikan teladan. Lewat sirahnya kita bisa banyak belajar darinya.
Akhir kata, “Hijab syar’i adalah pengontrol diri yang perlahan memfilter diri dari akhlak, lisan dan pemikiran yang tidak baik. Jikapun ada cacian sinis itu semata adalah acuan dakwah  kita untuk semakin optimis dan istiqomah. Tetaplah lembut dan tawadhu’ dan menenangkan bagi saudari-saudari kita yang belum hijrah. Jika saudari kita belum bisa menerima kita bisa jadi itu karena kita yang merasa paling benar, maka qona’ahlah! Seorang yang berhijab memang belum tentu shalihah, tapi sudah pasti akhwat shalihah itu pasti berhijab.”
Buatku, kamu, dan kita semua.


Jangan lupa kunjugi trimbelboy.blogspot.com
 Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

infonewz2 – Hampir sepekan sudah media massa ramai memberitakan perihal masalah keluarga yang tengah dialami seorang artis muda yang juga merupakan motivator. Perceraian, perebutan hak asuh, dan konflik dengan sang ibunda nampaknya menjadi penyebab artis cantik itu memutuskan melepas hijab yang telah hampir empat tahun menutupi auratnya.
Peristiwa ini sekaligus menjadi pembelajaran bagi kita semua, khususnya para muslimah berhijab. Bagaimana jika kita didera masalah yang begitu pelik? Atau bagaimana jika kita berada dalam kondisi terpuruk? Apakah kita akan seperti dia yang lantas membuka hijabnya? Astagfirullahaladzim, semoga tidak.
Lepas hijab bukanlah solusi, dan camkan itu dalam hati. Karena lepas hijab takkan menyelesaikan semua permasalahan hidup yang tengah dihadapi. Justru hanya menambah masalah baru yang jauh lebih besar lagi.
Ketika kita memutuskan melepas hijab yang selama ini menutupi aurat kita, pasti keluarga, saudara, tetanga akan mempertanyakannya dan jangan lupa bahwa Allah akan meminta pertanggungjawaban juga. Lantas apa yang harus kita lakukan saat beban hidup seolah tak kuasa lagi dihadapi?
Berkacalah pada wanita Palestina, yang bahkan ketika tidur tak pernah melepas hijabnya. Mereka takut jika sewaktu-waktu bom atau rudal israel mensyahidahkan mereka, lalu menghadap Allah dalam keadaan terlihat auratnya. Wanita palestina yang hidup di tengah kondisi perang, harus merelakan suami dan anak mereka kehilangan nyawa. Mereka bertahan hidup dengan mengungsi di tempat penampungan yang juga kerap kali menjadi sasaran rudal Israel. Bukan tidak mungkin besok atau lusa mereka yang akan menjadi korban berikutnya.
Berkacalah dari muslimah Rohingya, yang tetap memegang teguh hijab sebagai identitas keislamannya walau penindasan, pemerkosaan dan pembunuhan terus dilakukan para ekstrimis budha. Mereka hidup dalam ketakutan. Tak jarang mereka bersembunyi di got atau parit kotor yang penuh dengan air comberan berwarna hitam pekat, yang bau busuknya begitu menusuk hidung, untuk menghindar dari kekejaman orang-orang tak berperikemanusiaan.
Berkacalah dari muslimah Suriah, jangankan mempertahankan hijabnya, menyebut asma Allah saja, penjara dan siksaan yang didapatnya. Mereka yang mempertahankan keislamannya kini hidup di bawah reruntuhan gedung tanpa listrik dan kebutuhan memadai. Tak heran jika ulama di sana menghalalkan kucing dan anjing untuk dimakan, karena tak ada lagi yang bisa mengganjal perut untuk mempertahankan hidup.
Berkacalah dari muslimah Perancis, yang tak rela menukar kemuliaan hijab dan purdahnya dengan kebebasan membayar denda yang telah ditetapkan pemerintahnya. Uang yang mereka bayarkan tentunya tak seberapa bila dibandingkan dengan kenikmatan syurga yang Allah janjikan.
Dan berkacalah pada adik-adik SMP dan SMA di Bali yang harus siap menerima peringatan atau bahkan Drop Out dari sekolahnya dengan alasan membawa atribut keagamaan lewat hijabnya. Sungguh miris, Indonesia yang merupakan negara Islam terbesar di dunia, ternyata memiliki aturan larangan hijab di salah satu provinsinya.
Saat hidup terasa berat untuk dijalani, berkacalah dari mereka yang tak pernah rela menggadaikan kemuliaan hijabnya walau penindasan, kekerasan, pemerkosaan, dan bahkan pembunuhan kerap mengancam hidup mereka.
Adakah masalah kita lebih besar dari masalah mereka? Apakah beban hidup kita lebih berat dari beban hidup mereka? Sungguh tak ada apa-apanya.



Jangan lupa kunjugi trimbelboy.blogspot.com
 Prof. Dr. Ahmad Raisuni, seorang ulama Maroko (iums)

Prof. Dr. Ahmad Raisuni, seorang ulama Maroko (iums)
dakwatuna.com – Doha. Terjadi sebuah perkembangan yang sangat besar pekan ini di Irak. Organisasi jihad “Negara Islam di Irak dan Syam (ISIS) atau yang sering disebut media Timur Tengah dengan nama Da’isy, mengumumkan telah berdirinya khilafah islamiyah.
Yang mengejutkan, khilafah tersebut mereka namakan dengan “Daulah Islamiyah” tanpa imbuhan “di Irak dan Syam’, sehingga berarti sebuah negara Islam bagi seluruh umat Islam dunia. Demikian disebutkan situs resmi Persatuan Ulama Muslim Se-Dunia (IUMS), Rabu (2/7/2014).
Tentang kasus ini, seorang ulama pakar Maqashid Syari’ah (Tujuan-tujuan Syariah Islam), Prof. Dr. Ahmad Ar-Raisuni, berkomentar bahwa deklarasi berdirinya khilafah islamiyah di Irak tak lebih adalah sebuah angan-angan, fatamorgana, dan mimpi. Baik itu ditinjau dari sisi realitas maupun sisi Syariah.
Ulama yang juga merupakan wakil ketua IUMS ini menambahkan bahwa saat ini umat Islam di berbagai negara sedang berjuang membebaskan diri mereka dari para penguasa diktator yang menindas mereka dengan kekerasan senjata. Di waktu yang sama malah tiba-tiba muncul sebuah organisasi baru dan mendeklarasikan berdirinya khilafah dengan kekuatan senjata, lalu mengangkat seorang khalifah juga dengan senjata, lalu memaksa kelompok lain untuk tunduk dan loyal kepadanya.
Menurutnya, deklarasi berdirinya khilafah ini tidak lain adalah sebuah khayalan. Janji setia hanya dilaksanakan oleh orang-orang yang tak dikenal kepada orang yang juga tidak dikenal. Kita tidak tahu mereka ada di mana, di padang pasir atau gua. Oleh karena itu kewajiban untuk loyal hanyalah mengikat orang-orang yang terkait saja.
Dalam hal ini beliau menukil perkataan Umar bin Khattab ra., “Orang yang berjanji setia seseorang tanpa melalui musyawarah dengan umat Islam, maka orang itu tidak perlu diberi kesetiaan, demikian juga orang yang berjanji setia kepadanya.”
Oleh karena itu, menurut Syaikh Raisuni, lebih tepat kalau dikatakan bahwa di Irak sana sudah terlaksana syuting sebuah adegan film yang bergenre khayalan. Tapi sayangnya, untuk melaksanakannya harus melalui pertumpahan darah. Padahal yang sebenarnya, kasus di Irak ini adalah salah satu akibat dari rangkaian kezhaliman yang mereka alami sejak dulu. Mulai dari masa Saddam Husein, penjajahan Amerika, dan pemerintahan Syiah yang disetir oleh Iran. (msa/dakwatuna)

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/07/02/53982/persatuan-ulama-muslim-se-dunia-khilafah-ala-isis-hanya-khayalan/#ixzz3FMsrLRVg


Jangan lupa kunjugi trimbelboy.blogspot.com
Pasukan ISIS (Aljazeera)
Pasukan ISIS (Aljazeera)

Infonewz2 – Doha. Persatuan Ulama Muslim Se-Dunia (IUMS), yang dipimpin oleh Syaikh Yusuf Qaradhawi, mengeluarkan pernyataan terkait deklarasi khilafah islamiyah yang dilakukan oleh organisasi Negara Islam di Irak dan Syam (ISIS), Jumat (4/7/2014) kemarin.

Dalam pernyataan itu, IUMS menekankan bahwa deklarasi khilafah yang dilakukan ISIS untuk wilayah cukup luas di Irak dan Suriah tidak sah secara syariah Islam dan juga tidak membantu proyek kejayaan Islam. “Kami juga mengharapkan khilafah Islam bisa berdiri dengan cepat. Hari ini, tidak menunggu esok hari. Tapi khilafah yang didasarkan pada manhaj Nabi saw. dan syura. Bukan seperti yang dideklarasikan ISIS, yang malah mengakibatkan banyak bahaya kepada Sunni di Irak dan juga kepada revolusi di Suriah,” sebagaimana dikutip dari pernyataan itu.

IUMS juga menyatakan bahwa deklarasi ini terjadi karena ISIS kurang menguasai fiqh waqi’ (memahami realitas), sehingga bahkan terkesan meruntuhkan revolusi rakyat yang dilakukan oleh suku-suku Sunni dan kelompok-kelompok revolusi yang lain di Irak.

Menurut IUMS, deklarasi khilafah dan mengangkat seorang khalifah, dilanjutkan dengan menuntut umat Islam seluruh dunia untuk tunduk dan taat kepadanya dilakukan tanpa standar syariah dan realitas. Bahkan sisi bahayanya lebih besar daripada sisi manfaatnya.
Tidak mungkin semua organisasi perjuangan di seluruh dunia Islam dianggap ilegal dan tidak sah begitu ada deklarasi sepihak yang kemudian menamakan dirinya sebagai khilafah. Padahal saat itu umat Islam tidak disertakan sama sekali.

Apalagi banyak orang jadi mempunyai kesan tentang khilafah sebagai sebuah sikap yang keras. Hal itu ketika khilafah dihubungkan dengan ISIS. Umat Islam akan merekam negatif segala yang terkait dengan khilafah. Sehingga deklarasi ini pun bisa dikatakan tidak mendukung proyek kejayaan Islam. (msa/dakwatuna/aljazeera)

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/07/05/54134/syaikh-qaradhawi-khilafah-ala-isis-tak-sah-secara-syariah/#ixzz3FMrTbVAo

  Jangan lupa kunjugi trimbelboy.blogspot.com
 Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)
infonewz2 - Jauh-jauh hari sebelum Khilafah Utsmani tumbang pada tahun 1342 H/1942 M di sekitaran waktu tiga abad sebelumnya. Pada masa pemerintahan Sultan Salim II lebih tepatnya pada tahun 980 H/1569 M, Charles IX (Raja Perancis) memperbaharui kesepakatan damai dengan Sultan Salim II. Salah satu hasil pembaharuan kesepakatan itu adalah semakin bertambahnya keistimewaan yang diberikan kepada konsulat Perancis. Pada saat itu juga Henry de Palo (saudara Raja Perancis) dinobatkan sebagai Raja Polska atas persetujuan Perancis. Kemudian Polska menjadi pusat kawasan bisnis di kawasan Laut Tengah. Perancis pun mulai merealisasikan hasi kesepakatan damai itu. Perancis mengirimkan para misionaris Kristen ke seluruh wilayah Khilafah Utsmani yang di dalamnya terdapat pemeluk Kristen bahkan lebih khusus ke daerah Syam.
Misi para misionaris itu selain membawa misi penyebaran agama. Mereka senantiasa menanamkan rasa cinta pada pemerintahan Perancis di dalam hati orang-orang Kristen yang bertempat tinggal di kawasan Khilafah Utsmani. Akhirnya sukseslah misi itu, pengaruh Perancis menyebar di tengah-tengah pemeluk Kristen yang kemudian hal ini menjadikan melemahnya posisi Khilafah di hadapan warganya yang beragama Kristen. Pembangkangan demi pembangkangan terhadap pemerintah Utsmani mulai merebak setelahnya. Para misionaris yang tak mau merubah kewarganegaraannya itu dan lebih banyak memakai bahasa minoritas Kristen, merekalah yang senantiasa mempelopori kegiatan pemberontakan-pemberontakan.
Hak keistimewaan hasil dari perjanjian damai ini senantiasa tarik ulur dikarenakan prilaku Perancis yang ternyata membawa misi buruk untuk melemahkan Khilafah Utsmani. Siasat Perancis selanjutnya yang dilakukan terhadap pemerintahan Utsmani adalah menyetujui kembali sistem hak keistimewaan pada tahun 1673 M. Ironisnya Utsmani yang di masa kekuasaan Sultan Murad IV (1033-1049 H) walaupun sadar akan gelagat Perancis kemudian memerintahkan Perancis memberikan kewenangan untuk ikut melindungi (merongrongi) Baitul Maqdis.
Di dalam kesepakatan baru yang terjadi pada tahun 1740 M, pemerintah Utsmani memberikan tambahan hak-hak istimewa bisnis kepada Perancis. Selanjutnya hak ini dicabut atau dibatalkan tatkala Napoleon Bonaparte menduduki Mesir. Namun karena Napoleon Bonaparte menarik diri dari Mesir demi mendapat kembali hak istimewa. Dan benar pada tanggal 9 oktober 1801 M pemerintah Utsmani menambahkan hak istimewa pada Perancis dengan menambahkan hak istimewa di bidang bisnis dan kelautan di laut hitam. 1
Penjilatan Perancis terhadap Khilafah Utsmani dengan menggunakan hak istimewa berlangsung terus menerus sehingga menyebabkan kehancuran ekonomi Khilafah Utsmani semakin parah. Para penjilat itu seperti membangun Negara dalam Negara.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/10/02/57698/peran-misionaris-kristen-perancis-dalam-pelemahan-khilafah-utsmani/#ixzz3FMpSD5zsk
Jangan lupa kunjugi trimbelboy.blogspot.com